(Opini) Siswa Bukan Robot: Ketika Pembelajaran Harus Memahami Kebutuhan Manusia
Oleh: Fikri Alfian Saputra
Menjadi mahasiswa Praktik Pengenalan Lapangan Pendidikan (PLP) memberikan kesempatan untuk melihat dunia pendidikan dari sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya sekolah lebih banyak saya kenal sebagai tempat untuk belajar, kini saya memiliki kesempatan untuk memahami lebih dekat bagaimana proses pendidikan berlangsung, mulai dari kegiatan pembelajaran hingga interaksi antara guru dan siswa. Di lingkungan SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta (SMA Mupat YK), pengalaman tersebut menjadi ruang untuk belajar dan berefleksi tentang berbagai hal dalam pendidikan.
Sekolah bukan hanya tempat siswa belajar dan mendapatkan nilai. Di sekolah, mereka juga belajar membentuk karakter, memahami kehidupan, dan mengembangkan potensi diri. Karena itu, kedisiplinan menjadi hal penting yang perlu ditanamkan. Siswa harus datang tepat waktu, mengikuti pelajaran dengan tertib, dan menghormati guru.
Namun, ada satu hal yang terkadang luput dari perhatian bahwa siswa juga manusia. Mereka bisa merasa lelah, lapar, haus, dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mereka bukan robot yang bisa terus belajar tanpa memedulikan kondisi tubuhnya.
Lalu, sebelum menuntut siswa untuk selalu fokus, sudahkah kita memahami kondisi yang mereka hadapi?
Bayangkan seorang siswa yang belum sempat makan dengan cukup saat istirahat. Waktunya mungkin habis untuk mengantre di kantin, pergi ke toilet, beribadah, atau menyelesaikan keperluan lainnya. Ketika bel masuk berbunyi, ia harus kembali ke kelas, padahal makanannya belum selesai.
Dalam situasi seperti ini, siswa tetap dituntut untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Pertanyaannya, apakah kita cukup bijaksana jika hanya menuntut mereka untuk berkonsentrasi tanpa mempertimbangkan keadaan yang sedang mereka alami?
Tentu saja, bukan berarti setiap siswa yang lapar pasti tidak bisa berkonsentrasi. Kondisi setiap orang berbeda. Namun, kebutuhan makan dan kondisi fisik tetap menjadi hal yang patut diperhatikan dalam kegiatan belajar. UNICEF melalui laporan The State of the World's Children 2019 membahas pentingnya gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ini menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh cara guru mengajar, tetapi juga oleh kondisi siswa ketika mengikuti pembelajaran.
Dalam perspektif Islam, perhatian terhadap kemampuan dan kondisi manusia juga dapat menjadi bahan renungan. QS. Al-Baqarah ayat 286 menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat ini tentu bukan berarti semua aturan sekolah harus dihilangkan atau setiap keinginan siswa harus dituruti. Namun, nilai yang terkandung di dalamnya dapat mengingatkan kita untuk mempertimbangkan kemampuan dan keterbatasan manusia secara bijaksana.
Menurut saya, pendidikan memang perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Siswa bukan sekadar orang yang harus duduk diam, mendengarkan penjelasan guru, lalu mengerjakan tugas sesuai jadwal. Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh dan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.
Memahami kebutuhan siswa bukan berarti memanjakan mereka. Justru, sekolah dapat mengajarkan kedisiplinan sekaligus kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain. Keduanya tidak harus dipertentangkan.
Lantas, apakah makan di kelas bisa menjadi salah satu solusi?
Menurut saya, hal tersebut layak dipertimbangkan dalam kondisi tertentu. Misalnya, ketika seorang siswa belum sempat menyelesaikan makannya saat istirahat, guru dapat memberikan kelonggaran untuk makan secara tertib, selama situasi pembelajaran memungkinkan dan kegiatan tersebut tidak mengganggu siswa lainnya.
Apakah siswa tetap bisa makan sambil mengikuti pembelajaran dengan serius? Menurut saya, hal itu mungkin dilakukan dalam kondisi tertentu, selama siswa tetap memperhatikan penjelasan guru, aktif ketika diperlukan, dan tidak mengganggu teman-temannya.
Tentu saja, izin tersebut bukan berarti siswa bebas makan kapan saja dan melakukan apa pun di dalam kelas. Ada tanggung jawab yang tetap harus dijalankan. Siswa perlu menjaga kebersihan, tidak mengganggu konsentrasi teman, dan mengikuti arahan guru. Saat ujian atau kegiatan yang membutuhkan perhatian penuh, misalnya, makan di kelas mungkin bukan pilihan yang tepat.
Selain itu, persoalannya sebenarnya bukan hanya tentang boleh atau tidaknya makan di kelas. Kita juga perlu melihat apakah waktu istirahat yang tersedia sudah cukup bagi siswa untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Jika antrean kantin terlalu panjang atau waktu istirahat terasa terlalu singkat, bukankah hal tersebut juga layak dievaluasi? Sekolah dapat mempertimbangkan pengaturan waktu istirahat, kondisi kantin, serta jadwal pembelajaran agar siswa memiliki kesempatan yang cukup untuk makan dan beristirahat.
Dengan begitu, penyelesaian masalah tidak hanya berfokus pada perilaku siswa, tetapi juga melihat apakah lingkungan sekolah sudah mendukung mereka untuk belajar dengan baik.
World Health Organization (WHO) melalui publikasinya mengenai gizi di sekolah menekankan pentingnya lingkungan pendidikan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan siswa. Prinsip ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dalam menyusun kebijakan yang tidak hanya memperhatikan ketertiban, tetapi juga kebutuhan fisik siswa.
Meski demikian, kebijakan tentang makan di kelas tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Tidak semua situasi memungkinkan siswa makan sambil belajar. Karena itu, yang dibutuhkan bukan kebebasan tanpa batas, melainkan aturan yang masuk akal, kesepakatan yang jelas, dan kebijaksanaan dalam penerapannya.
Pada akhirnya, disiplin dan kepedulian seharusnya bisa berjalan beriringan. Siswa perlu belajar menaati aturan dan bertanggung jawab atas perilakunya. Namun, sekolah dan guru juga perlu memahami bahwa setiap siswa memiliki kondisi dan kebutuhan yang tidak selalu sama.
Mendidik bukan sekadar memastikan siswa mengikuti instruksi. Mendidik juga berarti mau memahami kesulitan yang mereka hadapi, mendengarkan kebutuhan mereka, dan membantu mereka menemukan cara yang bertanggung jawab untuk mengatasinya.
Sekolah yang baik bukan sekolah yang menghilangkan semua aturan demi kenyamanan siswa, melainkan sekolah yang mampu merancang aturan agar kedisiplinan dan kebutuhan siswa dapat berjalan beriringan.
Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya, "Mengapa siswa tidak fokus?" tetapi juga bertanya, "Apakah kita sudah menyediakan kondisi yang memungkinkan mereka untuk fokus?"
Referensi:
Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah [2]: 286.
UNICEF. (2019). The State of the World's Children 2019: Children, Food and Nutrition. Laporan UNICEF 2019
World Health Organization. (2023). How School Systems Can Improve Health and Well-being: Topic Briefs—Nutrition. Publikasi WHO tentang gizi di sekolah
Penulis : Fikri Alfian Saputra (23104010131)
Mahasiswa PLP SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta