(Opini) Dampak ketidakpercayaan diri peserta didik atas kemampuan yang mereka miliki

Budaya mencotek ketika ujian hingga saat ini masih sering terjadi. Hal ini terjadi karena kurangnya tingkat kepercayaan diri peserta didik. Mereka tidak segan menghalalkan cara agar mendapatkan nilai yang bagus. Padahal menurut penulis, nilai hanyalah formalitas, karena Penulis lebih memprioritaskan makna dibalik segala pembelajaran itu.

Keberlangsungan budaya mencotek saat ujian masih sulit diminimalisir. Jika sudah terlanjur begini keadaannya, siapa yang disalahkan?Guru yang kurang memberikan pemahaman materi, atau respon peserta didik yang tidak mau memahami materi yang disampaikan guru. Tetapi, pada kenyataannya tidak sepenuhnya salah guru ataupun peserta didiknya. Ada peserta didik yang sudah berusaha keras dalam belajar, namun dia masih belum diberi pemahaman oleh Allah SWT. Ada Juga guru yang sudah bersusah payah memanage pembelajaran yang sedemikian rupa, harapannya agar peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Namun sayangnya kedua usaha tersebut tidak selalu sesuai dengan ekspektasi yang telah dibangun.

Pesan untuk peserta didik
Yakinlah dengan kemampuan yang kalian miliki. Beranilah melangkah mencoba sesuatu hal yang baru, tidak selalu dengan hal yang kamu senangi. Jangan bergantung pada orang lain, berusahalah untuk dapat berdiri tegak diatas kakimu sendiri. Bisa jadi, apa yang tidak kamu senangi itu sebenarnya baik untukmu. Seperti dalam Q.S Al-Baqarah ayat 216:


كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”


Kita ibaratkan saja, bahwa belajar merupakan suatu tindakan yang memerangi kebodohan. Rasanya memang sulit dan berat. Prosesnya teramat panjang dan menguji kesabaran. Oleh karena itu, sebagai seorang peserta didik dalam proses tholabul Ilmi, kita pastinya dihadapkan pada sesuatu hal yang kita sukai atau kita benci. Maka, jangan lupa untuk selalu minta pertolongan kepada Allah. Tujuannya agar mendapatkan keberkahan dan diberikan petunjuk yang terbaik selama tholabul ilmi. Jadi selama berproses, kita juga berprogres.

Dan yang terakhir, hormatilah guru kalian yang memberikan perhatian pada kalian dengan sepenuh hati. Buatlah guru merasa senang sehingga beliau ridho kepada kalian. Dengan keridhaan seorang guru, sebagai peserta didik kita akan mendapatkan do'a-do'a baik dari para guru kita.

Ketika seorang peserta didik telah mendapatkan ridha gurunya, maka mereka telah meletakkan dasar yang kuat untuk kesuksesan dalam kehidupan mereka sendiri. Keridhaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu. Dan dengan ridho guru kita akan diberikan kemudahan dalam menuntut ilmu.

Pesan untuk guru
Jangan selalu menomor satukan nilai, hingga peserta didik kita kehilangan empatinya hanya karena kesalahan standar yang kita buat. Sehingga yang ada dibenak peserta didik hanya keegoisannya, kepuasannya, dan kedudukannya. Sebagai guru kita hendaknya mampu mempelopori keindahan moral dan spiritual peserta didik kita.

Jangan lelah menasehati peserta didik dalam kebaikan, tidak ada batu yang tak pecah saat terkena tetesan air terus menerus. Berilah mereka semangat dalam menjalani kehidupan, bukan membuat mereka merasakan beban dengan segala tuntutan. Do'akan hal-hal yang baik untuk peserta didik, sehingga Allah akan memberi karunia pemahaman ilmu pada peserta didik tersebut.

Mari kita prioritaskan proses daripada hasil. Berilah peserta didik afirmasi positif sehingga kepercayaan terhadap diri mereka terus meningkat. Yakinlah mereka dengan potensi yang mereka miliki, bahwa mereka bisa melalui semuanya dengan baik.

Dalam menuntut ilmu kita hendaknya dapat bersikap jujur. Karena tanpa sebuah kejujuran, ilmu yang diperoleh tidak akan ada gunanya. Ilmu adalah untuk kebenaran, maka harus diperoleh dengan cara yang benar. Dengan kejujuran dan kepercayaan peserta didik dalam belajar, tentunya hal tersebut secara otomatis membentuk karakter individu serta menciptakan lingkungan belajar yang positif dan kondusif.

Penulis: Arrum Sumanding Zamani
Mahasiswa Pendidikan Biologi 2021
PLP MAN 1 Sleman

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler